Sosok

Wikan Sakarinto Terima Penghargaan Tokoh LSK 2026, Konsisten Kawal Pendidikan Vokasi

Wikan Sakarinto Direktur Akademi Inovasi Indonesia Salatiga. Foto: Dok Istimewa

Wikan Sakarinto Direktur Akademi Inovasi Indonesia Salatiga. Foto: Dok Istimewa

Jakarta, Gradasigo - Mantan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, Wikan Sakarinto, resmi dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh LSK (Lembaga Sertifikasi Kompetensi) 2026. Penghargaan ini diberikan atas konsistensinya dalam mengawal revolusi vokasi dan memperkuat sertifikasi kompetensi di Indonesia.

Penyerahan penghargaan berlangsung dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum LSK di Auditorium Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan Jakarta, Kamis (16/4).

Momentum ini disaksikan langsung oleh jajaran Direktorat Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Komisi X DPR RI, serta pimpinan asosiasi profesi dan Ketua LSK se-Indonesia.

Bagi Wikan, dunia pendidikan dan kebutuhan industri harus terikat dalam sinergi yang ia istilahkan sebagai "pernikahan" mendalam. Ia menekankan bahwa hubungan tersebut tidak boleh sekadar formalitas di atas kertas.

"Kurikulum harus disusun bersama, praktisi harus masuk ke kelas sebagai guru tamu, dan lulusan yang dihasilkan harus menjadi jawaban instan bagi industri," tegas Wikan.

Wikan menerapkan konsep dan filosofi Link and Match ke dalam implementasi kontekstual, riil dan realistis, yaitu Real Project-based Learning (Real PjBL) dan Teaching Factory (TEFA).

“Keduanya sangat relevan diterapkan oleh LKP, SMK dan politeknik. Yaitu, pembelajaran dan pelatihan vokasi yang berorientasi dan menghasilkan produk nyata, digunakan oleh user nyata dan menciptakan tantangan nyata bagi siswa atau mahasiswa. Sehingga menghasilkan lulusan yang kompeten, berkarakter baik, serta memiliki softskills dan hardskills yang kuat dan relevan. Tidak hanya sekedar sertifikat, ijazah atau IPK tinggi, namun lemah di karakter dan softskills serta sikap kerjanya,” lanjutnya.

Sebagai bentuk aksi nyata, Wikan menerapkan filosofi Link and Match melalui konsep Real Project-based Learning (Real PjBL) dan Teaching Factory (TEFA). Konsep ini ia terapkan langsung pada institusi yang dipimpinnya, di AII Salatiga dan Polmind (MM2100, Bekasi), dan Lembaga Kursus Bahasa Jepang di Yogyakarta yang berfokus pada pengiriman SDM terampil ke Jepang.

Metode ini mewajibkan pembelajaran berorientasi pada produk nyata yang digunakan oleh pengguna (user) asli, sehingga menciptakan tantangan kerja yang sesungguhnya bagi siswa. Tujuannya adalah menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi memiliki karakter, soft skills, dan sikap kerja yang kuat.

Bagi Wikan, yang juga pernah menakhodai Sekolah Vokasi UGM, hubungan antara bangku sekolah dan kebutuhan pabrik atau kantor tidak boleh hanya berhenti di atas materai MoU. Ia seringkali mengibaratkan sinergi ini sebagai sebuah "pernikahan" yang mendalam.

Wikan secara tegas menepis stigma lama yang menempatkan SMK atau Politeknik sebagai pilihan kedua bagi mereka yang gagal di jalur akademik.

Mengingat Indonesia tengah menghadapi bonus demografi, ia mendorong institusi pendidikan untuk mencetak inovator, bukan sekadar tenaga kerja teknis.

"Indonesia tidak bisa menunggu. Pendidikan vokasi adalah kunci agar pemuda kita menjadi pemain di negeri sendiri, bukan penonton," ujarnya.

Meski saat ini tidak lagi menjabat di struktur kementerian, Wikan tetap aktif menyebarkan visi "Vokasi Kuat, Menguatkan Indonesia" melalui berbagai platform digital dan diskusi publik.

Penghargaan Tokoh LSK 2026 ini menjadi pengakuan atas keberaniannya menjembatani teori pendidikan dengan realitas dunia kerja. (oni)

Related Post