News

Literasi Syariah Baru 39%, Prof Edy Hamid Ajak Masyarakat Jogja Melek Ekonomi Halal

Suasana pertemuan strategis MES DIY bersama Bank Indonesia di Gedung Heritage, Yogyakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Ahmad Habibi

Suasana pertemuan strategis MES DIY bersama Bank Indonesia di Gedung Heritage, Yogyakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Ahmad Habibi

Yogyakarta, Gradasigo – Menyambut target Indonesia sebagai pusat produsen halal dunia, Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY menggelar agenda strategis bertajuk “Syawalan dan Kolaborasi Strategis Road to Jogja Halal Fest (JHF) #3” di Gedung Heritage, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY pada Rabu (8/4/2026). Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan upaya mentransformasi kesalehan spiritual pasca-Ramadan menjadi kebangkitan ekonomi umat yang nyata.

Urgensi Literasi di Tengah Potensi Ekonomi Ketua Umum MES DIY, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., memberikan catatan kritis mengenai ketimpangan antara potensi besar ekonomi syariah dengan realitas literasi di lapangan. Saat ini, indeks literasi keuangan syariah di Indonesia baru menyentuh angka 39,11%, sementara indeks inklusinya jauh tertinggal di level 12,88%.

"Artinya, dari 100 orang, baru sekitar 13 orang yang benar-benar memanfaatkan layanan keuangan syariah," ungkap Prof. Edy. Menurutnya, MES DIY berkomitmen menjadi penggerak edukasi agar kesadaran beragama masyarakat selaras dengan perilaku ekonomi yang halal dan thoyyib.

Halal sebagai Mesin Pertumbuhan DIY Dukungan penuh datang dari Bank Indonesia yang memandang sektor halal sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta. Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Hermanto, memaparkan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi DIY pada 2025 sebesar 5,49%—dan proyeksi kuat di angka 4,9–5,7% untuk 2026—sektor pariwisata menyumbang kontribusi dominan hingga 65,6% terhadap PDRB.

Hermanto menekankan bahwa kebijakan Wajib Halal Oktober 2026 harus dipandang sebagai growth economy engine. Penguatan Halal Value Chain (rantai nilai halal), khususnya di sektor kuliner dan pariwisata ramah Muslim, dianggap krusial untuk mendongkrak daya saing produk lokal DIY di kancah global.

Menyadari demografi Yogyakarta yang didominasi mahasiswa, MES DIY mengusung strategi komunikasi yang lebih luwes melalui program "TOPI Diksi" (Tongkrong, Ngopi, Diskusi). Program inovatif ini menyasar kafe-kafe sebagai ruang edukasi investasi syariah agar tidak lagi terasa kaku, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup cerdas anak muda Jogja. (oni)

Related Post