Bandung, Gradasigo – Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Nugroho Sulistyo Budi, menegaskan bahwa paradigma pertahanan nasional harus segera bergeser seiring dengan transformasi ruang siber menjadi domain pertempuran mandiri. Hal ini disampaikan dalam ceramah umum di hadapan 118 Perwira Siswa (Pasis) Dikreg LV Sesko TNI Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Gedung Grha Widya Adibrata, Sesko TNI, Bandung, Senin (13/4/2026).
Dalam paparannya yang bertajuk urgensi Electronic Warfare (EW) dan Cyber Warfare (CW), Nugroho menyoroti bahwa ancaman di ruang digital tidak lagi bisa dipandang sebelah mata sebagai gangguan teknis sederhana. Ruang siber kini telah melampaui fungsinya yang semula hanya sebagai pendukung operasional, menuntut penguatan strategi dan kesiapsiagaan nasional yang terintegrasi secara menyeluruh.
Nugroho memperingatkan bahwa spektrum ancaman saat ini telah berevolusi mencakup sabotase, manipulasi data, hingga upaya pengambilalihan kendali sistem saraf infrastruktur vital nasional. Efek dari serangan di ranah ini diprediksi dapat memberikan dampak yang setara dengan peperangan konvensional.
“Penguasaan spektrum elektromagnetik dan ruang siber adalah mutlak bagi kedaulatan negara,” tegas Kepala BSSN. Beliau menambahkan bahwa aktor-aktor yang memanfaatkan celah digital kini secara strategis menargetkan sektor-sektor krusial seperti pertahanan, ekonomi, transportasi, hingga energi.
Ceramah ini bertujuan untuk mempertajam pemahaman strategis para perwira menengah terhadap ruang siber yang kini menjadi domain pertempuran utama. Melalui edukasi ini, para Pasis Sesko TNI diharapkan mampu mengintegrasikan perspektif keamanan siber ke dalam doktrin pertahanan nasional secara utuh.
Penguatan postur pertahanan siber harus berjalan selaras dengan perkembangan teknologi guna memitigasi risiko disrupsi operasional nasional. Sinergi berkelanjutan antara BSSN dan institusi pendidikan strategis seperti Sesko TNI dianggap sebagai langkah konkret dalam menjaga stabilitas nasional di tengah ancaman multi domain yang semakin kompleks. (*)

Muhammad Sidik Kaimuddin Tomsio