BLITAR, Gradasigo - Mengubah montir handal menjadi pengusaha sukses ternyata bukan perkara mudah. Realitas inilah yang direspons cepat oleh Lembaga Kursus Erlangga Blitar. Pasca melahirkan lima bengkel rintisan baru dari Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Teknik Sepeda Motor Sistem Injeksi, lembaga ini langsung menerjunkan tim untuk mengawal langsung operasional perdana mereka di lapangan.
Langkah jemput bola ini dikemas dalam Pendampingan Tahap I yang berlangsung pada Selasa (4/8/2026). Hasilnya mengejutkan. Di bawah sorot lampu bengkel, tantangan terbesar para alumni muda ini ternyata bukan lagi soal membongkar mesin injeksi yang rumit, melainkan perkara sepele yang sering mematikan bisnis: manajemen harian.
Direktur Lembaga Kursus Erlangga Blitar, Ida Sulistyowati, menegaskan bahwa indikator sukses program PKW bukanlah momen saat para peserta menerima sertifikat kelulusan. "Keberhasilan sejati adalah saat mereka mampu merawat dan membesarkan usaha yang sudah dirintis ini," ujarnya.
Ia menambahkan, pendampingan intensif sengaja dirancang agar bengkel-bengkel baru ini tidak layu sebelum berkembang. Targetnya jelas, mereka harus mandiri secara finansial dan mampu membuka lapangan kerja baru.
Dalam amatan di lapangan, potret problematik wirausaha baru ini terlihat sangat bervariasi. Tim pendamping yang digawangi Siti Alfiah Catur Puspita dan Umi Dewi Masitoh menemukan 'penyakit' klasik UMKM di lima bengkel binaan tersebut.
Di Bengkel 66 Motor, misalnya, montirnya kerap lupa mencatat uang masuk setelah lelah menyervis motor pelanggan. Lain lagi di Bengkel Jaya Mandiri, kunci-kunci pas dan peralatan kerja masih berserakan tanpa penataan, sehingga membuang waktu saat bekerja.
Sementara itu, Pandawa Tech Garage kedapatan masih 'malas' mengunggah konten promosi di media sosial. Di sudut lain, Semoyo Garage belum memiliki data pelanggan, dan mekanik di Ngoprek Garage masih canggung serta kurang percaya diri saat menawarkan jasa tambahan kepada konsumen.
Menyikapi temuan itu, tim Erlangga Blitar langsung memberikan resep praktis. Para pemilik bengkel diwajibkan disiplin mengisi buku kas harian, merapikan tata letak suku cadang, hingga memaksimalkan fitur WhatsApp Business untuk mengikat loyalitas pelanggan.
Tentu, ini bukan evaluasi yang terakhir. Program pengawalan bisnis ini akan terus bergulir secara berkala hingga Juni 2027. Perlahan tapi pasti, fokus pendampingan akan ditingkatkan mulai dari pembenahan pembukuan, strategi pemasaran digital yang lebih agresif, hingga memastikan bisnis bengkel injeksi ini memiliki daya saing tinggi di pasar lokal. (*)

Muhammad Sidik Kaimuddin Tomsio