News

Model PjBL Sukses, Lembaga Kursus Erlangga Blitar Cetak 5 Bengkel Rintisan Baru

Bukan cuma teori di kelas, para peserta Program PKW Teknik Sepeda Motor di LKP Erlangga Blitar langsung terjun melayani servis motor warga. (Foto. Dok Istimewa/ LKP Erlangga Blitar)

Bukan cuma teori di kelas, para peserta Program PKW Teknik Sepeda Motor di LKP Erlangga Blitar langsung terjun melayani servis motor warga. (Foto. Dok Istimewa/ LKP Erlangga Blitar)

BLITAR, Gradasigo - Belajar otomotif tak lagi sekedar bongkar pasang mesin di dalam kelas. Di Lembaga Kursus Erlangga Blitar, para peserta Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Teknik Sepeda Motor langsung dihadapkan pada realitas industri. Hasilnya lima bengkel rintisan baru resmi lahir dan dikelola mandiri oleh para lulusan kursus.

Lompatan ini berhasil diwujudkan berkat penerapan metode Project Based Learning (PjBL). Lewat sistem ini, batas antara ruang kelas dan dunia kerja sengaja dikikis. Peserta kursus dipaksa keluar dari zona nyaman teori demi merasakan kerasnya persaingan usaha yang sesungguhnya.

"Peserta tidak hanya belajar teori atau praktik teknis, tetapi juga diajak berpikir sebagai seorang wirausaha," ujar Direktur Lembaga Kursus Erlangga Blitar, Ida Sulistyowati. Menurutnya, siswa dituntut mampu merancang usaha, membangun identitas bengkel, melayani pelanggan, hingga mengevaluasi omzet. "Dengan begitu, kompetensi yang mereka peroleh menjadi lebih utuh."

Langkah awal dimulai dari meja perencanaan. Sebelum memegang kunci pas, setiap kelompok wajib menyusun business plan matang, lengkap dengan analisis SWOT, strategi pasar, hingga kalkulasi modal. Tak berhenti di sana, mereka juga bertindak layaknya tim kreatif yang mendesain logo, slogan, dan strategi promosi digital.

Saat simulasi hidup dimulai, suasana bengkel berubah dinamis. Pembagian peran dilakukan secara profesional: ada yang bertugas sebagai Service Advisor, mekanik, bagian administrasi, hingga kasir. Semua bergerak di bawah standar operasional prosedur (SOP) industri, namun tetap dalam pengawasan ketat instruktur.

Puncaknya, mereka menggelar program Servis Murah Sepeda Motor untuk masyarakat sekitar. Momen ini menjadi ujian mental yang sesungguhnya. Para mekanik muda ini harus berhadapan langsung dengan beragam karakter konsumen, mendiagnosis kerusakan secara cepat, dan memberikan pelayanan prima di bawah tekanan waktu.

Sebagai penutup, seluruh kelompok wajib mempresentasikan hasil proyek dan laporan keuangan di hadapan praktisi industri. Evaluasi ini menjadi penentu sejauh mana kesiapan mereka sebelum benar-benar dilepas ke pasar bebas.

Ke depan, Lembaga Kursus Erlangga Blitar berkomitmen tidak melepas begitu saja lima bengkel rintisan ini. Pendampingan berkelanjutan akan terus dilakukan agar bisnis-bisnis lokal baru ini mampu bertransformasi menjadi usaha yang mandiri, profesional, dan mampu menggerakkan roda ekonomi daerah melalui lahirnya wirausaha muda. (*)

Related Post