Bogor, Gradasigo - Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Bogor bergerak cepat mengantisipasi ancaman genangan dan degradasi lingkungan di kawasan pemukiman. Melalui langkah konkret, Disperkim resmi menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan drainase vertikal pada 11–12 Mei 2026.
Kepala Disperkim Kabupaten Bogor, Eko Mujiarto, S.H., M.H., menegaskan bahwa pembangunan fisik infrastruktur akan sia-sia tanpa adanya komitmen pemeliharaan dari hilir. Menurutnya, drainase vertikal memegang peran krusial dalam konservasi air sekaligus mengendalikan limpasan hujan langsung di area padat penduduk.
"Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan," ujar Eko dalam pembukaan acara yang turut dihadiri Kabid Penyehatan Lingkungan Rizki Akbar, Ketua Tim Substansi Drainase Tika Rachmawati, dan Ketua Panitia Tuntin Diana.
Pemerintah daerah berharap lewat pembekalan teknis ini, aset publik yang telah dibangun dapat berfungsi jangka panjang. Apalagi, persoalan drainase di pemukiman erat kaitannya dengan isu kesehatan lingkungan yang lebih makro.
Menyoroti hal tersebut, dosen tetap Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA), Dr. Hj. Helwiyah Makarim, M.Pd., yang hadir sebagai pemateri menegaskan bahwa drainase sehat adalah fondasi kualitas hidup warga. Drainase yang buruk memicu genangan, bau tak sedap, hingga menjadi sarang penyakit.
Untuk itu, Helwiyah merumuskan prinsip utama drainase sehat: lancar tanpa hambatan, bersih dari sampah, dan dirawat secara berkelanjutan. Strategi taktis yang ditawarkan mencakup inspeksi berkala, kerja bakti, edukasi, hingga stimulus berupa inovasi lomba drainase bersih antar-RT.
Bimtek ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Kabupaten Bogor tidak lagi sekadar membangun, tetapi mulai menggeser fokus pada manajemen perawatan berbasis komunitas demi mewujudkan kawasan pemukiman yang sehat dan berkelanjutan. (*)

Dr. Helwiyah Makarim. M.Pd