Kuliner

Kenapa Martabak Manis dan Telur Punya Nama Sama? Ini Sejarah Uniknya!

Martabak Ariana LBS Jalan Kaliurang

Martabak Ariana LBS Jalan Kaliurang

Yogyakarta, Gradasigo - Pernahkah Anda berdiri di depan gerobak pinggir jalan dan menyadari sebuah kejanggalan? Di atas etalase yang sama, ada dua makanan yang beda rupa, beda kasta, bahkan beda cara masak, namun berbagi satu nama, yaitu Martabak. Yang satu asin gurih berbalut kulit tipis yang digoreng kering. Satunya lagi manis, tebal, empuk berongga, dan lahir dari loyang besi bundar.

Dualisme kuliner ini nyatanya bukan kebetulan sejarah, melainkan monumen hidup dari kecerdikan taktik pemasaran masa lalu yang berhasil bertahan hampir satu abad di Indonesia.

Misteri kesamaan nama ini bermula dari siasat dagang di Bandung sekitar tahun 1950-an. Seorang perantau asal Bangka bernama Hioe Kiew Sem ingin menjual Hok-Lo-Pan (kue tradisional orang Hoklo). 

Melihat martabak telur saat itu sudah jauh lebih populer, ia memutar otak dan memilih berkolaborasi dengan pedagang lokal. Demi mempermudah komunikasi dan memikat konsumen, mereka sepakat menamai dagangan masing-masing sebagai "Martabak Asin" dan "Martabak Manis". Siasat instan inilah yang memicu kebingungan nama hingga hari ini.

Padahal, jika merunut ke belakang, keduanya memiliki akar genetik yang sepenuhnya berbeda.

Martabak telur lahir di Semarang pada tahun 1930 lewat persahabatan lintas negara antara Ahmad, pemuda asal Lebaksiu, dan Abdullah bin Hasan Almalibary, saudagar asal India. Abdullah memperkenalkan moortaba, roti pipih khas India yang sarat daging dan rempah. Agar ramah di lidah lokal, Ahmad memodifikasinya dengan memperbanyak telur dan daun bawang. Eksperimen ini meledak di festival rakyat seperti Sekaten Yogyakarta. 

Sukses besar tersebut dibawa pulang ke Tegal, hingga kini Kecamatan Lebaksiu bertransformasi menjadi "Kampung Martabak" karena mayoritas warganya merantau sebagai pengusaha kuliner ini.

Di sisi lain, Hok-Lo-Pan cikal bakal martabak manis, lahir murni dari tradisi imigran Tionghoa di Pulau Bangka. Versi aslinya sangat bersahaja, adonan tepung berongga berpanggang loyang besi tebal, dengan taburan gula pasir dan wijen sangrai.

Akibat penyebaran yang unik, martabak manis akhirnya mengalami "krisis identitas". Di Semarang kuliner ini dijuluki "Kue Bandung" karena penjual pertamanya mangkal di dekat warung Mie Bandung. Sementara di Yogyakarta dan Indonesia Timur, bentuk bulat kuningnya yang menyerupai bulan purnama membuatnya lebih populer disebut "Terang Bulan".

Jadi, sepiring martabak hangat yang kita nikmati malam ini bukan sekadar camilan pelepas lapar. Ia adalah bukti nyata bagaimana kreativitas lokal mampu menjinakkan pengaruh asing, baik India maupun Tionghoa, menjadi satu identitas rasa baru yang dicintai lintas zaman. (AMH)

Related Post