Sosok

Perjuangan Dini Hari Sofyan Budi Haryo Hadiri FGD dan RAKERDA GRADASI Jawa Timur, Semangat Talenta Digital Tak Kenal Lelah

Sofyan Budi Haryo berangkat sehari sebelum rakerda Gradas Jatim. Foto : Dok. Nurul Laila

Sofyan Budi Haryo berangkat sehari sebelum rakerda Gradas Jatim. Foto : Dok. Nurul Laila

Surabaya, gradasigo – Semangat membangun talenta digital Jawa Timur benar-benar terasa dalam gelaran FGD dan RAKERDA GRADASI Jawa Timur. Tak sekadar forum diskusi, agenda ini menjadi ruang temu gagasan, konsolidasi program, sekaligus panggung dedikasi para pejuang literasi digital dari berbagai penjuru daerah.

Salah satu kisah yang mencuri perhatian datang dari Sofyan Budi Haryo. Tinggal di Kencong, Kabupaten Jember, ia memulai perjalanannya sejak pukul 23.00 WIB. Dari rumah menuju terminal, ia menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Setelah itu, bus malam membawanya melintasi gelapnya jalur pantura dan tol menuju Surabaya selama sekitar empat jam.

Pukul 04.00 WIB, Sofyan tiba di Kota Pahlawan. Udara dini hari masih dingin, mata mungkin berat, tapi tekad tak pernah redup. Ada satu hal yang langsung ia cari setibanya di lokasi kegiatan: kamar mandi.

Bukan tanpa alasan. Baginya, hadir di RAKERDA GRADASI Jawa Timur bukan sekadar datang dan duduk. Ini tentang membawa marwah organisasi, tampil bersih, rapi, dan berwibawa. “Kalau mau membangun talenta digital, kita sendiri harus siap secara mental dan penampilan,” ujarnya singkat sembari tersenyum.

FGD GRADASI Jawa Timur: Merumuskan Arah Talenta Digital

Forum Group Discussion (FGD) GRADASI Jawa Timur menjadi ruang strategis membedah isu-isu krusial pengembangan talenta digital di daerah. Mulai dari penguatan literasi digital, kolaborasi dengan pemangku kepentingan, hingga strategi peningkatan kapasitas generasi muda menghadapi transformasi teknologi.

Diskusi berlangsung dinamis. Para peserta menyampaikan gagasan berbasis pengalaman lapangan. Perspektif praktis berpadu dengan visi jangka panjang. Tak sekadar wacana, FGD ini menegaskan pentingnya roadmap konkret untuk menjawab tantangan era disrupsi.

Atmosfernya serius tapi hangat. Ide-ide berkelindan, kritik disampaikan dengan elegan, dan solusi dirumuskan secara kolektif. GRADASI Jawa Timur menunjukkan bahwa gerakan digital tak cukup viral—ia harus berdampak.

RAKERDA GRADASI Jawa Timur: Konsolidasi dan Aksi Nyata

Selepas FGD, Rapat Kerja Daerah (RAKERDA) menjadi momentum konsolidasi organisasi. Agenda ini memfokuskan pembahasan pada penyusunan program kerja, penguatan struktur, serta strategi ekspansi gerakan hingga tingkat kabupaten/kota.

Komitmen yang terbangun bukan hanya di atas kertas. Para peserta, termasuk Sofyan Budi Haryo, datang dengan semangat kontribusi nyata. Perjalanan jauh, waktu istirahat yang terpangkas, hingga tantangan logistik tak menyurutkan langkah.

“Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi?” celetuk salah satu peserta, disambut anggukan setuju dari yang lain.

RAKERDA GRADASI Jawa Timur menjadi simbol bahwa gerakan digital bukan milik kota besar saja. Dari Kencong hingga Surabaya, dari desa hingga pusat provinsi, semua terhubung oleh visi yang sama: mencetak talenta digital unggul, adaptif, dan berintegritas.

Dedikasi Tanpa Drama, Kerja Nyata Tanpa Banyak Gaya

Kisah Sofyan adalah potret kecil dari semangat besar yang mengalir di tubuh GRADASI Jawa Timur. Perjalanan malam, tiba subuh, lalu bersiap tampil prima di forum strategis—itu bukan pencitraan. Itu dedikasi.

FGD dan RAKERDA GRADASI Jawa Timur membuktikan bahwa perubahan lahir dari orang-orang yang rela melangkah lebih dulu, bahkan saat yang lain masih terlelap.

Di era serba cepat ini, komitmen adalah mata uang paling mahal. Dan pagi itu, di Surabaya, komitmen itu hadir dengan wajah lelah tapi mata penuh cahaya.

GRADASI Jawa Timur tak sekadar berbicara tentang masa depan digital. Mereka sedang menjemputnya—bahkan sejak pukul 23.00 malam sebelumnya.

Related Post